Showing posts with label Learning. Show all posts
Showing posts with label Learning. Show all posts

Saturday, 19 November 2022

Berita Negatif Yang Baik: Pengalaman Sembuh dari Covid-19 di Periode Awal Pandemi


Suasana Salat Jumat


Alhamdulillah setelah > 30 hari terkonfirmasi positif Covid-19, hasil tes usap saya tanggal 19 Januari 2021 menyatakan: Negatif. Selama positif, saya melakukan isolasi dimulai dari Wisma Atlet Kemayoran, pindah Hotel (setelah 10 hari di WAK), dan di rumah dengan protokol ketat. 

Saya juga mensyukuri, bahwa tidak ada perburukan selama periode tersebut. 


Awal Gelaja

Awal bergejala dimulai tanggal 13 Desember 2020: bangun pagi mulai demam, sakit kepala, sakit tenggorokan, badan linu/nyeri di beberapa bagian. Gejalanya mengingatkan dulu waktu saya terkena DB. Kemudian di hari ke-4 makan mulai tidak ada rasanya, tapi masih bisa mencium bau. Waktu masih isolasi WAK, Ibunya Nadya (baca: istri) sempat membelikan saya Bebek Kaleyo yang juara itu. Ternyata rasanya asin doang, padahal kan seharusnya enak banget, hehehe. 

Oke mundur lagi. Di tanggal 14 Desember 2022, saya melakukan tes usap pertama. Hasilnya keluar di tanggal 15 Desember 2022 Jam 10.00 WIB: Positif CT 17,47. Jarak waktu konfirmasi positif dengan keputusan untuk berangkat ke WAK kurang lebih sekitar 9 jam, keputusan diambil cepat mempertimbangkan Nadya dan Ibunya dalam kondisi sehat. Siangnya sekitar Jam 12.00 WIB, saya nekatkan mengantar mereka sendiri ke RS untuk tes usap. Saya nyetir, mereka duduk di kursi belakang dengan jendela mobil terbuka selama perjalanan.

Dugaan kami benar, jam 21.00 WIB di tangga 15 Desember 2022 tersebut hasil tes usap mereka Negatif. Di posisi itu saya lebih tenang duduk antri registrasi di Tower 6 WAK.



Pasca Isolasi di Wisma Atlet Kemayoran

Proses masih belum berhenti setelah menjalani 11 hari isolasi di WAK. Posisi saat "lulus" saya masih kondisi Positif hasil dari tes usap di hari ke-9 isolasi. Dokter mengizinkan saya keluar dengan pertimbangan bahwa saya sudah tidak ada keluhan gejala dan CT sudah >30. Kondisi yang sama juga dialami 30-an alumni wisma lain yang menjalani isolasi selantai dengan saya. Di hari itu hanya ada 8 orang yang pulang dengan kondisi sudah negatif, 26 Desember 2022. 

Pesan yang kami terima sebelum pulang: isolasi lebih lanjut 7 hari di rumah masing-masing dengan tetap memperhatikan prokes. Pakai masker, pisah kamar, (kalau bisa) pisah kamar mandi, dan aturan isolasi mandiri yang umum lainnya. 

Kalau dicermati lebih lanjut, hal tersebut sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Kemenkes revisi-5 Juli 2020. Bahwa pasien dengan kondisi seperti saya masuk kategori sembuh di hari ke-10 + 3 (gejala ringan) sejak awal gejala. Jadi, sembuh dalam definisi ini belum tentu negatif. Beberapa sumber yang saya baca/tonton hal ini berdasarkan berbagai penelitian sejak awal pandemi bahwa virus tidak lagi infeksius setelah hari ke-10 menginveksi seseorang (lengkapnya bisa googling). 

Antiran Registrasi di Tower 6


Catatan dan Pelajaran

Ada catatan dari pengalaman saya. Selain pesan Dokter di atas saya juga sempat konsultasi ke Dokter via Halodoc dan datang ke RS Universitas Indonesia. Semua pesannya masih sama dengan yang pertama tadi walaupun saya sudah di atas hari ke-20 saat itu. Jadi satu sisi menyatakan aman tapi di sisi lain tetap pakai masker jaga jarak dulu di rumah. Ya sudah saya ikuti saja arahannya. Lagipula hati juga belum tenang interaksi dengan anak istri pakai status masih Positif. 

Oya satu lagi, saya juga tanpa pantauan khusus baik dari Puskesmas (yang tidak responsif ketika dihubungi di awal, mungkin karena kasus sedang tinggi) atau dokter khusus. Saya bener-bener memperkaya diri dengan pengetahuan soal penyakit ini untuk menentukan apa lagi yang harus dilakukan? Selain saling sharing dengan beberapa teman yang kebetulan lagi sama-sama berjuang. 

Berjemur


Beberapa catatan lain:
  1. Teman, saudara, tetangga, atau orang lain yang kita kenal dan tahu kondisi kita biasanya akan mendoakan dan memberikan dukungan. Ini menguatkan. Tak sedikit yang akan mengirimkan berbagai informasi terkait upaya penyembuhan baik itu obat, ramuan tradisional, dll. Saran saya saring dulu dan cek mana yang valid dan mana yang tidak. Mana yang sudah teruji dan mana yang tidak jelas sumbernya. 
  2. Saat ini lebih banyak pilihan dalam mencari lokasi isolasi mandiri , tapi bukan berarti mudah. Persoalannya yang butuh lokasi isolasi juga banyak, beberapa sudah penuh. Sehingga harus bisa mengukur apakah masih bisa dengan isoman di rumah atau di fasilitas yang disediakan pemerintah. Sebelum keluar WAK saya dan Ibunya Nadya sempat telpon belasan hotel di Jakarta yang menurut info menyediakan kamar untuk isolasi, ini juga tidak ada yang tembus dengan berbagai alasan. 
  3. Waktu yang dibutuhkan untuk penyembuhan (jika sampai negatif) untuk masing-masing orang yang terjangkit akan berbeda. Jadi kunci dari menghadapi ujian ini ya sabar dan ikhlas.
  4. Tidak usah ragu untuk melapor ke pimpinan wilayah tempat tinggal, misalnya Ketua RT. Kita wajib memberikan informasi, pun Ketua RT berhak tau kondisi kita. Juga ngabarin tetangga. 
  5. Berpikir tenang, bertindak cepat. Itu yang saya dan ibunya Nadya lakukan di saat saya terkonfirmasi positif.
  6. Kondisi negatif ini hal basic untuk syarat WFO (masuk gedung), selain itu juga saya pengen segera bisa donor plasma yang mensyaratkan sudah ada min 1 x hasil tes negatif setelah terpapar. Lebih tuntas lagi, kalau kata dokter terakhir ya 2 x hasil tes usap negatif. 
Aktivitas Pasien di Pagi Hari

Terakhir, imbauan yang mungkin sudah berulangkali kita dengar diikuti saja: Taati protokol kesehatan, 3M, keluar jika perlu, hindari kerumunan, dll. Karena per Maret 2020 ketika kasus pertama mulai diumumkan Pemerintah, saya dan keluarga termasuk yang sangat-sangat berhati-hati. Sejak keluar gerbang rumah selalu pakai masker, ngantongin hand sanitizer, bawa masker cadangan, bawa alat ibadah sendiri, pulang dari luar sterilisasi dulu di luar rumah, ga mudik waktu lebaran, libur panjang di rumah aja, dll.

Tapi kondisinya sekarang, posisi virus ini terlalu random untuk diketahui ada pada diri siapa, dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa.. 

Jadi, hati-hati ya teman-teman. Semoga kita melewati pandemi ini dengan kuat, semua sehat! 



----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tulisan ini saya buat pada Januari 2021, dengan sedikit perbaikan.

Thursday, 30 May 2013

Ikatlah Ilmu dengan Tulisan




Pernah saya baca sebuah kalimat sakti di linimasa Twitter. Sayang, sampai sekarang belum saya tahu siapa yang pertama kali melotarkannya. “Ikatlah ilmu dengan tulisan” begitu kira-kira bunyinya. Tanpa ada penjelasan lebih lanjut saya kira kita dapat memaknai apa kandungan kalimat ini.

Kenapa kalimat di atas saya katakan sakti? Karena memang benar demikian adanya. Saya setuju, dan saya yakin anda juga setuju.  Argumen paling sederhana yang dapat menjadi topangan pembenaran atas kalimat tersebut mungkin adalah soal ide yang sering kali menguap dari pikiran kita.

Saat Inspirasi Muncul, Tangkaplah

Saya pernah kuliah di Semarang sedangkan domisili asli adalah di Sukoharjo. Range lokasi ke dua kota di Jawa Tengah ini lebih dari 100 Km yang biasa saya tempuh dengan sepeda motor. Jika di kalkulasi dalam satuan waktu, maka jarak sedemikian tadi rata-rata saya capai dalam waktu  2,5 – 3 Jam. Tergantung kecepatan dan kepadatan kendaraan di jalanan. Dalam jangka 4 tahunan terakhir, maka sudah tak terhitung berapa kali jalur Sukoharjo-Solo-Boyolali-Salatiga-Kab. Semarang-Kota Semarang saya lalui, pulang pergi. Pula berapa jam yang saya habiskan untuk berada di jalanan.

Pada saat-saat mengaspal di jalanan itulah, waktu kritis yang sering saya temui akan dinamisnya pikiran saya meloncat-loncat asimetris. Imajinasi pun turut bergerak tanpa batas, tentang semua hal. Terutama perkara-perkara kehidupan yang saya alami, hal-hal yang saya sukai, masa depan, soal urusan perkuliahan, organisasi, urusan hati,  keluarga, ataupun berbagai kejadian yang saya temui selama perjalanan. Sebagian orang menyebutnya, inspirasi. Bisa dibayangkan? Tentu tak semua orang menemukan momen yang sama dengan saya. Jadi, dimana anda biasa bertemu dengan inspirasi semacam ini?

Celakanya, saat-saat afirmasi diri dalam perkembangan ide/inspirasi ini rupanya terlampau mudah saya abaikan. Tetap menjadi bayangan dalam memori, yang jika saya sedang beruntung dapat saya ingat kembali ketika membutuhkannya untuk diaplikasikan dalam taraf praktris kehidupan sehari-hari. Soal skripsi saya dulu misalnya.

Kebetulan juga, saya dianugerahi memori ingatan yang agak kurang dalam menangkap suatu detail. Meskipun saya tak pernah melupakan moment. Contohnya:  Saya ingat siapa pacar pertama saya, tapi saya tak ingat kapan kami jadian atau kapan kami berpisah. Oh tunggu dulu, kalau yang ini karena memang tidak penting untuk diingat dan ada faktor kesengajaan untuk tidak mengingat-ingat.

Baik kita tinggalkan sedikit sesi curhat yang tadi. Rupanya saya menyadari juga apa yang telah terlewat di belakang itu salah. Alhamdulillah saya sadar, jadi tak peduli berapa jauh jalan salah yang telah anda jalani, putar arah sekarang juga. Begitu kalau Rhenald Khasali bilang sebagai tagline dalam buku “Change” nya.

Akhirnya, saya coba memulai menulis, apapun yang saya ingin tulis. Walaupun kadang bersahabat dengan hasrat menulis itu tidaklah mudah. Begitu kalau kata para penulis. Media blog, menjadi kanvas putih sensual yang memotivasi saya untuk terus diwarnai dengan tulisan-tulisan yang lebih banyak.
Setelah setahun yang lalu postingan pertama saya buat, saya belajar bahwa saya telah banyak belajar selama proses menulis. Konten yang lebih berkembang, dengan gaya penulisan yang menurut saya lebih baik. Itu menurut saya.

Selain itu, kalau buka folder di laptop pun ada beberapa tulisan yang tersimpan tentang macam-macam hal. Namun sayang, semua terhanyut bersama tenggelamnya kemampuan hard disk si Alexandra (baca:laptop) dalam bekerja. Dia telah tiada membawa bergiga-giga memori bersamanya. Selamanya.
Oya, Twitter pun kadang bisa jadi media walaupun terbatas. Pernah juga saya mencoba membuat serial twit tertentu. Yah tentu dengan konten yang saya mengerti dan memang ingin saya bagi. Sok-sokan jadi seleb twit, ceritanya.

Hanya kekurangannya memang kicauan kita sering terinjak kicauan-kicauan yang menumpuk di atasnya. Jadi agak susah dan mungkin sedikit merepotkan kalau harus nyecroll2 lagi mencari kicauan yang tersembunyi diantara ratusan, ribuan, pulahan ribu atau bahkan ratusan ribu kicauan yang telah terposting. Tergantung seberapa “cerewet”  anda di dunia microbloging.

Kalaupun memang niat ingin menggali “harta karun” yang agak terpendam di dalam juga ada caranya kok. Coba cek setting twitter via web, jika ada “your twitter archive” berarti bisa cek kicauan yang lalu-lalu bahkan kicauan paling pertama kali di sajikan. Terima kasih untuk peristiwa CEK TL TAHUN LALU-nya politikus Budiman Sudjatmiko yang membuat saya mengerti cara ini. Silahkan tersenyum jika anda tahu maksud saya.

Pada satu titik tertentu, saya menemukan jalan yang saya rasa sudah benar untuk lanjut saya tapaki, sebuah turning point. Saya juga mengangguk pelan dengan wajah terhias senyuman kecil ketika mengingat lagi kalimat “Ikatlah ilmu dengan tulisan” di atas pada saat semakin banyak menulis. “Oh (mungkin) ini ya maksutnya” kata saya dalam hati.

Jadilah saya memaksa diri untuk belajar rajin menulis, apapun sesuai yang saya suka dan saya tahu. Proses ini pula yang kemudian memaksa saya untuk mengembangkan wawasan lewat membaca, dari obrolan-obrolan, menangkap makna kehidupan, dan sebagainya. Itulah ilmu yang kemudian harus diikat. Karena saya temukan juga bahwa saat saya belajar lebih banyak hal, saya ternyata jadi tahu kalau saya masih banyak tidak tahu.

Dalam sebuah talkshow Rumah Perubahan-nya di TVRI, Rhenald Khasali sang Guru Besar Ilmu Manajemen dari Kampus Kuning dan social entrepreneur ini bercerita. Bahwa dia sudah sangat terbiasa menulis minimal seminggu sekali. Kalau sampe terlewat, untuk memulianya lagi rasanya gamang bagi beliau. Gatal rasanya. Maka tak heran kalau sudah sekian buku dan ratusan artikel mungkin yang telah beliau hasilkan. Itu baru yang saya ketahui.

Seorang Dahlan Iskan pun mengajarkan bagaimana sebuah tulisan dapat menjadi kekuatan dalam memotivasi, menumbuhkan optimisme, dan mempengaruhi bayak orang dalam kerangka yang positif. CEO Notes yang sering beliau buat dan sebarkan selama menjadi direktur utama PLN telah membuat sebuah perbedaan dalam mendongkrak kinerja perusahaan. A different style of leading in a state institution. Sebagai catatan, CEO Notes ini menyebar di dalam milis internal PLN sampai ke level karyawan paling bawah. Semua pegawai bisa membaca, dan semua orang di dalam perusahaan pemerintah berlogo petir ini bisa mengerti arah mana yang diinginkan pimpinanya untuk dicapai bersama-sama. Setahu saya, sampai saat ini Dahlan Iskan masih tetap menulis banyak hal terutama berbagai pencapaian perusahaan-perusahaan yang ada di bawak kementrian BUMN-nya. Kolomnya pun tersedia khusus di salah satu portal media online (klik: Kolomnya). Memang latar belakang beliau sebagai wartawan dan juga memiliki sebuah jaringan perusahaan berita nasional, saya pikir ikut mempengaruhi keaktifan beliau dalam menulis. Tapi tak harus jadi wartawan untuk bisa menulis kan.

Pesan orang bijak lain menyebutkan, “ Ketika kehidupan mengajarkan kebahagiaan maka tulislah kenangannya di atas batu, jika kehidupan mengajarkan kekecewaan maka tulislah kenangannya di atas pasir”. Analoginya sederhana, menulis dia atas batu akan bertahan lama dan mungkin tidak akan hilang layaknya prasasti-prasasti peninggalan kerajaan di nusantara. Sedang menulis di atas pasir akan tetap terbaca, namun kemudian dapat hilang di sapu ombak atau angin. Maksudnya menulis di media yang tepat dan tindakan menulis itu sendiri akan menjadi guru yang abadi bagi kita, mungkin seperti itu maknanya.

Are you Story Teller enough?

Menurut saya kema(mp)uan menulis ini juga selaras dengan keahlian kita menjadi seorang story teller. Pencerita, atau pendongeng yang mampu menggiring imajinasi dan mind set pembacanya ke arah yang kita inginkan. Seperti buku-buku favorit yang kita miliki, para penulisnya berhasil dengan gemilang menghipnotis kita dalam visualisasi yang kita tak mengerti bisa muncul dalam lamunan. Dengan rangkaian diksi yang tepat maka sudah semestinya tulisan perlu dibuat dengan konten yang positif, tujuan yang baik, informatif, dan imajinatif walau pastinya di hidangkan dalam berbagai gaya yang khas sesuai karakter si penulis.  

Saya juga bersyukur pernah mengalami masa yang indah bersama skripsi. Proses inilah yang mengajari saya mendesain ulang kerangka berpikir menjadi lebih sistematis, menata cara pandang akan suatu persoalan, berargumen dengan dasar data yang akurat, mengembangkan gagasan dari satu ide pokok, dan mengais-ngais bahan bacaan dari berbagai sumber yang rupanya lumayan menambah masaa otak saya beberapa cc. Terima kasih pula untuk 2 dosen pembimbing saya yang memberi andil atas posisi saya di masa sekarang. Mereka jugalah yang membuat saya tak perlu repot-repot lagi mengalokasikan waktu untuk melakukan proses penyempurnaan (baca:revisi) setelah sidang skripsi.

Oya, Kalau ada yang bilang nulis skripsi itu susah maka saya 100% tak setuju. Terserah anda akan bilang apa, terutama bagi mereka generasi mahasiswa tingkat akhir yang sedang mencoba berdamai dengannya. Nulis sskripsi itu mudah kok, mau bukti? Oke, sekarang buka laptop dan program Ms. Word-mu. Lalu ketik S – K – R – I – P – S – I. Mudah kan? Jadi deh SKRIPSI.

Sekarang saya tanya, apa anda masih rela punya ide, inspirasi, dan imajinasi yang (mungkin) akan berharga tapi tersingkir lenyap begitu saja? Saya rasa tidak. Maka marilah kita menulis. Mengikat ilmu titipan dari Sang Kuasa lewat alam kepada kita. Dengan begitu si ilmu tak hanya bermanfaat bagi kita tapi juga bagi orang-orang di sekitar kita. Bukankah demikian itu hakekat seorang manusia? Jadi, mulailah menulis dari apa yang disuka, mulailah dari yang sederhana, mulailah sekarang juga. Kalau saya sendiri lupa, bolehlah kita saling mengingatkan.

“Tulis apa yang kamu lakukan, lakukan apa yang kamu tulis..”




*Tulisan inipun spontan saya buat ketika sedang meratapi modem yang tak bersahabat dengan laptop. Tiba-tiba pengen buka Word, terus jadilah tulisan sederhana ini dalam waktu kurang lebih setengah jam saja (sebelum editing). Saya pantas dapet P*P Mie untuk prestasi ini. Sekian dan terima kasih sayang


Saturday, 30 March 2013

Hidup Menabur Mimpi (part-1)





Siapa yang punya kondisi tidak berbeda dengan saya disini? Diambang kelulusan, wisuda, dan melepas status sebagai mahasiswa (setidaknya di level strata-1)… selamanya. Iya selamanya.

Karena besar kemungkinan sedikit diantara kita akan mau mengulang masa perkuliahan di fase pertama pasca pendidikan sekolah menengah tersebut, selesai kita libas. Ya kalaupun ada pasti dengan berbagai syarat dan ketentuan yang berlaku. Semoga asumsi saya benar:).

Kawan, seringkah dirimu dikasih pertanyaan, entah dari siapapun itu dengan sangat sederhana seperti “ Setelah lulus mau kerja dimana mas?” atau “Setelah lulus mau jadi apa mas?”. Pertanyaan yang simple. Namun (kadang) menemukan jawabanya tidak sesederhana pertanyaan tersebut bagi sebagian orang. Merasa sial? Merasa bingung? Atau mungkin sudah sangat jelas tahu jawabanya. Beruntung dan bersyukurlah anda yang masuk di dalam kelompok terakhir.

Namun bagi yang masuk di kelompok pertama dan kedua, jadikan saja pertanyaan2 ini bermuatan positif. Itu adalah stimulan dan cambuk nyata selain omelan Ibu2 kita di rumah yang paling bisa menyentil hati. 

Bagi saya pribadi, pertanyaan ini beranak pertanyaan lain kepada diri sendiri “Jadi sebenarnya mau jadi apa? Mau kemana? Bagaimana caranya?” dan sederet pertanyaan lainnya yang membuntuti.

Bersyukurlah kalau kita masih memiliki banyak pertanyaan seperti ini. Bukan berarti tiada hasil kita menghabiskan waktu kuliah wira-wiri di kampus, dan atau sebagian lain yang menginvestasikan waktunya untuk berorganisasi. Tapi inilah daftar pertanyaan yang tiada boleh terhapus sepanjang perjalanan hidup kita di dunia. Biarkan otak bekerja, hati bicara, dan menuntun kita menuju arah yang seharusnya menjadi ladang pengamalan ilmu serta pencurahan passion pembakar semangat jiwa dalam berkarya yang sesungguhnya.

 Kembali ke pertanyaan sederhana tadi. Sudah adakah yang menemukan jawabannya? Jawaban yang sebenar-benarnya jawaban maksud saya. Bukan sekedar logika bahwa “2” adalah jawaban dari “1+1”. Tapi apa dibalik jawaban “2” itu? Apa alasanya? Bagaimana prosesnya? Sudahkah kita menanganggap hal ini penting?

Oke, jadi begini. Dulu waktu awal kuliah saya diterima di jurusan yang nampak sempurna bagi orang tua saya (Ilmu Pemerintahan). saya terpacu untuk secara sempurna pula membuat peta masa depan demi menjadi guide agar terarah menuju kemana saya akhirnya. Tentu saja dengan terlebih dahulu berproses untuk mencintai jurusan ini sendiri.
Secara idealis saya tuliskan bahwa saya harus bias menjadi sekretaris daerah di kabupaten tumpah darah (Sukoharjo) dengan jalan meniti karir dari level terbawah hingga level teratas. Menjadi PNS tentunya. Karena di dalam struktur organisasi pemerintahan, jabatan inilah yang tertinggi diantara pilihan menjadi pejabat karir. Artinya jabatan ini tidak di dapat secara politik (seperti posisi kepala daerah/Negara) dan menitik beratkan penilaian dan penghargaan atas diri bahwa kita memiliki kompetensi dan pantas menududuki jabatan karir tertentu.

Indah ya? Bagi saya indah walaupun bisa saja tidak menurut yang lain. Apalagi pada saat itulah pertama kalinya saya memahami urgensi serta berani membuat blue print kehidupan atas diri sendiri. Hidup ini sudah cukup keras untuk di hadapi, tapi akan lebih keras lagi kalau kita tak mampu memaknai arti kehadiran kita di dunia. Apalagi jika kita tak tahu arah jalan pulang (malah jadi lagu).

Namun kawan, mimpi bisa berubah, bertambah, dan berkembang seiring perkembangan diri kita masing-masing. Juga akibat tempaan hidup dan segala pengalamannya yang menjadikan kita seperti bukan apa2. Buku2 dan artikel2 yang kita baca, orang2 yang kita temui, tontonan yang kita nikmati, dan berbagai hal yang kita pelajari akan memberikan pengaruh dan menjadi pelaku utama mengapa kita bisa mengalami perkembangan ketertarikan akan suatu bidang dan mimpi di masa depan.
…to be continued..

@RidwanAb

Sunday, 29 April 2012

Give more, achieve more (even more and more)

Source: Google


Bagian cerita hidup kali ini, saya sebut Give more, achieve more (even more and more) :)

Masih sedikit berhubungan dan punya alur cerita yang mirip dengan postingan saya terdahulu Rp 1.000 x 10 = ? . Yup, sekali lagi saya merasakan bahwa Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya.

Jum'at 27 April yang lalu adalah titik mula cerita ini. Seusai sholat Jum'at di Masjid Pangeran Diponegoro (lagi), saya mencari kotak infaq yang tersedia di bagian belakang untuk tujuan akhir atas sejumlah uang yang telah saya siapkan. Yup, kali ini pun tak seberapa, hanya Rp 2.000,00. Seketika saya selipkan uang itu di lubang kotak tersebut, sambil lalu saya melihat selembar brosur di atas kotak. Yup, semacam brosur2 yang sering ada dan di sebarkan bagi jama'ah di masjid. Lalu terbawalah pulang kertas tersebut oleh tangan saya.

Coba tebak apa isinya??? *tepuk meja plisss* hehehe,

Dan... brosur kertas yang mungkin terabaikan oleh orang lain ini ternyata adalah sebuah tiket gratis (fasilitas sponsor) untuk sebuah seminar yang dilaksanakan hari ini, Minggu 29 April 2012, di Hall Masjid Agung Jawa Tengah. Sebelumnya saya tidak banyak berharap, tapi IYA pasti dalam setiap doa ada permohonan kepada-Nya untuk kelimpahan Rahmat serta Rejeki yang luas selalu terucap. Semua pasti tahu, rejeki bukan selalu dalam bentuk uang, karena turunnya hujan itu rejeki, kelengkapan anggota tubuh itu rejeki, udara yang kita hirup pun rejeki, dan banyak lagi. Betul tidak? :)

Yang terutama pada momen ini, bagi saya selembar tiket gratis tersebut adalah 'rejeki'. Saya meyakini ini merupakan 'sebuah balasan' yang Dia janjikan atas orang orang yang menyisihkan sebagian hartanya bagi orang lain. Biasanya saya berpikir 2/3x atau bahkan lebih untuk yang kaya gini (nemu nemu brosur). Tapi hari itu tidak. Cukup sekali saya baca, dan langsung saya tulis dalam agenda bahwa saya harus datang ke seminar tersebut. Pasti! Dan, Alhamdulillah puji syukur, karena Tuhan mengijinkan saya untuk datang dan mengambil banyak manfaat dari acara ini.

"How to be Debt Free+Launching Gerakan Kebangkitan Ekonomi Umat" 
Kebetulan kalimat di atas adalah tajuk acara tersebut. Yup acara ini diselenggarakan oleh Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) Semarang. Pernah baca buku "10 Pengusaha Yang Memulai Bisnis dari Nol" karya Sudarmadi? Nhah, pembicara utama seminar ini adalah salah satu orang Indonesia yang ditulis kisah hidupnya dalam buku tersebut. Nama beliau adalah Heppy Trenggono. Direktur United Balimuda International, Presiden IIBF, dan penggagas Gerakan "Beli Indonesia" (Silahkan tanya Mbah Google untuk tahu profil lengkapnya).

Dalam perjalanannya, beliau pernah bangkrut 2 kali dalam usahanya, kerugiannya(utangnya) mencapai 35 miliar dan 62 miliar rupiah. Bayangkan, uang segitu untuk beli bakso bro :D *yahhh, bayangkan saja,hehe* Namun kini beliau adalah salah satu pengusaha yang sukses dan tidak segan berbagi kisah hidupnya bagi kepentingan dan kemajuan ummat banyak.

Peserta acara tadi pun tak hanya dari Semarang. Lampung, Jakarta, Kediri, Magetan, bahkan Kalimantan Timur pun ada yang datang. Salut saya atas usaha beliau beliau ini mengejar ilmu sampai Semarang.

Sedikit lepas dari siapa pembicara dan content acaranya yang bisa saya share di bagian lain (karena begitu berharganya isi seminar ini). Hal yang saya syukuri adalah ketika saya tahu, mereka yang ada di kursi peserta VIP di seminar ini haruslah membayar Rp 250.000,00 dan kursi reguler Rp 80.000,00. Subhanallah, dan saya hanya membayar 'RP 2.000,00' saja dengan ilmu-ilmu baru dan pengalaman yang sama bisa saya dapatkan. Kursi pun saya bisa nyempil ke bagian depan dengan pedenya :D

Yah walupun memang, pengecualian atas nasi kotak, snack, notes, & majalahnya yang tak saya dapat dan sebaliknya mereka dapat. Tapi bukankah orang yang datang ke seminar lebih karena motif: Siapa pembicaranya, apa topiknya, apa content pembicaraan speakernya, dan kadang (juga karena) berapa harga tiketnya, bukan apa fasilitasnya yang bisa di dapat?

Dan 'isi-isi' seminar itulah yang saya dapat. Antara lain point yang saya catat, bahwa kekayaan itu bukan pada 'berapa tabungan kita' tapi kekayaan itu adalah pada 'karakter seseorang'. Bahwa 'My Family is my number 1 client'. Bahwa hutang itu muncul karena ada 'benang merah' atas permasalahan karena kualitas hubungan kita dengan Tuhan dan orang lain. Bahwa Rejeki itu ada '4 level'. Juga lebih tahu kondisi real perekonomian di Indonesia dibanding sekeliling. Juga, bahwa saya lebih paham lagi  Tuhan harus selalu dilibatkan dalam setiap usaha kita. Jadi tahu lebih dalam 'peran' IMF dalam kemandekan produksi IPTN/PT DI dan perekonomian negara secara umum. Jadi lebih paham efek kapitalisme bagi Indonesia (baca: rakyat kecil Indonesia & negara berkembang lain), dan sebagai-bagainya.

Ah, terlalu banyak untuk dicatat bahkan. Bukankah itu rejeki yang berlimpah bro?



@RidwanAb * (sengaja saya sebutkan nominal asli sebagai perbandingan. Insya Allah tidak ada unsur riya' (Niat saya biar dinilai langsung sama Yang Maha Menilai) karena ada beberapa ahli/ulama yang tidak melarang kisah pemberian dibuka demi kepentingan syiar dan inspirasi bagi yang lain. Itu tujuan saya)




Tuesday, 17 April 2012

Rp 1.000 x 10 = ?



Pengalaman hikmah sedekah ini bagi saya penting untuk dibagikan sebagai sebuah cerita dan pembelajaran untuk kita sekalian. Semoga yang tersirat lebih banyak bisa diserap daripada yang tersurat. Yah begitulah harapannya :)

Jadi, ini hanyalah sebuah kisah kecil yang juga (hanya) melibatkan harta dengan nominal yang kecil pula. Yup, hanya Rp 1.000,00. Tapi Insya Allah, uang Rp 1000,00 ini yang menjadi REMINDER saya akan bukti janji yang pasti ditepati oleh Sang Kuasa. 

Suatu sore saya bergegas menunaikan sholat Magrib berjamaah di Masjid Diponegoro, yang lokasinya terdekat dengan kos-an. Seperti biasa saya ambil recehan (sayang hanya bisa recehan) dari celengan plastik warna merah di meja belajar. Yang bagian atasnya pun pernah saya bolongin dulu kala, jadi biar gampang masukin duit (termasuk diambil lagi) hehehe.. Ceritanya, duit duit disitu asalnya dari recehan sisa sisa saku harian.

Balik ke Rp 1.000,00 tadi, memang sore itu saya niatkan untuk infaq sebelum masuk masjid. Tak banyak pengharapan kala itu, hingga pada esok harinya saya menerima sms. 

Yup, sebuah sms yang biasa muncul dengan isi kabar bahwa nomor hape saya baru saja terisi pulsa sejumlah Rp 10.000,00 tidak kurang dan lebih, pas sekali:)

Menjadi sebuah ucap syukur saya pagi itu,entah dari siapa/mana saya tidak tahu pengirim pulsa ini. Sejenak saya menunggu siapa tau ada teman/keluarga yang mengkonfirmasi kalau kalau dia membelikan saya pulsa sejumlah itu. Yah, sampai siang dan sore lagi tidak ada rupanya.

Dalam hati saya yakin, saya percaya, ini berhubungan dengan infaq saya malam sebelumnya yang ternyata jika dihitung TEPAT dikalikan 10.

Apakah ini kebetulan? Saya rasa tidak, karena saya percaya akan janji-Nya yang menyebutkan bahwa setiap tindakan sekecil apapun akan Dia ganjar dengan setimpal. 

Terutama bila kita melakukan kebaikan yang ganjarannya tidak Cuma sama, tapi bisa berkali lipat (10x, 100x, dan tak hingga sesuai kehendak-Nya) atau tidak menutup kemungkinan kembali pada kita dalam wujud yang berbeda. 

Bukan lagi Insya Allah, tapi percaya saja bahwa Dia akan membalas lunas harta yang kita sisihkan berapapun jumlahnya. Masih bingung? coba renungkan sejenak nikmat-Nya yang kadang kita lupa. Udara yang kita hirup? waktu yang luang? nasi yang kita makan? baju yang kita pakai? kesehatan yang terjaga? Subhanallah bisakah terhitung semua nikmat itu..


@RidwanAb