Showing posts with label Manchester United. Show all posts
Showing posts with label Manchester United. Show all posts

Friday, 24 May 2013

(sedikit) Yang Tersisa dari Premiere League 2012/2013

source: manutd.com


Hari ini tepat 13 hari setelah pasukan terakhir Sir Alex Ferguson mengangkat trophy Premiere League untuk musim 2012/2013. Dan 5 hari berlalu sejak pertandingan terakhir premiere league secara keseluruhan tersaji. Yah, mulailah masa-masa merana bagi para kaum penyendiri yang hanya memiliki sepakbola sebagai belahan hatinya. Tiada lagi arena pelarian untuk mereka di kala Sabtu malam dihabiskan. Bagi mereka malam minggu bukan lah hari bercinta, ini adalah hari sepak bola bagi kami. Eh, mereka.

Anda pasti sudah tahu apa maksud saya mengatakan 'pasukan terakhir' SAF kan. Jadi saya tak akan banyak membahas soal ini. Bagi saya, melihat SAF pensiun sama seperti menyadari bahwa orang yang saya cintai ternyata memilih orang lain. Sakit, sulit dipercaya, tapi pasti terjadi, dan terpaksa harus dinikmati. Masa seperti ini mengajarkan saya untuk ikhlas dalam level yang tidak biasa, however life must go on. Right? Meski begitu juga, optimisme tetap terjaga bahwa MU masih akan berjaya di tahun-tahun selanjutnya. SAF terlalu lama berada di Old Trafford dan mengawasi para pemain berlatih di Carrington. Inilah kelebihannya, karena MU sudah terbiasa dengan kestabilan, kondisi financial yang kuat, brand yang mendunia, dan pemain-pemain yang loyal terhadap klub, serta tradisi prestasi yang juga dapat dibanggakan. MU bukanlah tipe klub yang berganti manajer hampir setiap musim, seperti Chelsea misalnya. Hingga Gary Neville pun dengan lugas menggambarkan seperti apa nilai yang dianut United ketika ia mengatakan bahwa,“United is not a stupid club...that changes the manager every 10 minutes." (dari Pangeran Siahaan). SAF lah sang arsitek dari sebuah sejarah bernama Manchester United. SAF adalah Manchester United itu sendiri.

Lalu, apalagi yang tersisa di dalam memori kita tentang perjalanan Manchester United merengkuh gelar ke-20 seperti yang telah diprediksi? Ya setidaknya saya sendiri yang berani memprediksi hal tersebut sejak gelar juara liga terpaksa kita ikhlaskan mampir ke lemari trophy tetangga. Saya sangat yakin, bahwa di musim berikutnya (musim ini) tiada lagi juara sejati yang akan muncul selain Manchester merah. Manchester is Red. That's it.

Sebelumnya harap dimaklumi jika ada rasa-rasa narsis, kebanggan berlebih, atau kelewat jumawa tercium dari tulisan ini. Yah bagaimana lagi, memang faktanya MU adalah penguasa daratan Inggris dan saya yang membuat tulisan ini adalah seorang fans Setan Merah. Dengan raihan 20 trophy liga maka tiada satu tim pun di daratan kerajaan ini yang mampu menyaingi MU. Penguntit terdekat adalah Liverpool dengan 18 trophy yang semuanya dimenangkan sebelum era EPL, dan Arsenal dengan 13 trophy, serta tim lainnya yang mungkin akan saya tulis jika ada yang sudah melampaui angka 10.

Bagaimanapun, demikian cerita yang terjadi di musim sekarang. Tapi, siapa yang akan tahu apa yang terjadi musim depan, bahkan saat ini dan beberapa detik lagi. Konstelasi persaingan di rimba premiere league memang sangat ketat. Sepakbola tak lagi sekedar permainan kerja sama 11 orang melawan 11 orang yang ditengahi oleh seorang wasit di lapangan. Sepakbola adalah industri, sepakbola adalah seni, sepakbola adalah kehidupan bagi mereka yang mencintainya.

Ketika jaman 2000-an awal kita mengenal sebutan group The Big Four dengan Manchester United, Liverpool, Arsenal, dan Chlesea menyusun formasinya. Hal demikian karena konsekuensi dari teramat seringnya ke empat tim ini finish di deretan tabel teratas akhir musim dengan peringkat yang kadang bertukaran. Dengan MU yang paling sering berada di peringkat pertama. Well, ini dulu dan sekarang konsep ini tak lagi dikenal atau bahkan dibahas oleh media dan juga pengamat bola. Arus sejarah persaingan untuk menguasai premiere league mulai makin berwarna dengan adanya berbagai perkembangan. Salah satunya adalah sejak City menjadi klub kaya mendadak saat pertama dibeli mantan PM Thailand Thaksin Sinawatra, hingga kemudian berpindah kepemilikan ke milyuner UEA. Kekuatan City sebagai tim pun ikut bergerak naik teriring transfer besar-besaran para bintang pelaku bola. Hal yang hampir sama juga terjadi di tim London Biru yang dibeli milyuner super obsesif dari Rusia. Jika ada orang mengatakan uang tak dapat membeli prestasi, coba minta dia sejenak melihat ke belakang dan mempelajari bagaimana City dan juga Chelsea berusaha menguasai Inggris.

Ketika eksistensi sebuah klub diukur dengan trophy yang mereka raih, maka bersiaplah para pelaku sepakbola di dalamnya menjadi seorang 'pekerja'. Mereka dibayar karena bermain bola dan menunjukan performa mengkilap. 'Harga' seoarang pemain diukur dari seberapa besar kontribusi mereka ke tim, berapa menit mereka mendapat kesempatan bermain, berapa gol yang mereka (striker) buat ke gawang lawan, berapa assist yang mereka kreasi untuk melayani rekan setimnya, berapa jumlah passing yang dikirim (miedfilder) dan akurat diterima kawan, berapa jumlah gol kemasukan dan saves yang dibuat oleh seorang kiper, dan ukuran-ukuran data lain yang tersaji dalam angka yang detail akurat dan rapi. Data-data macam ini biasa di supply oleh lembaga statistik khusus sepak bola. Seperti EPL Index atau Opta. 

Hal lain yang menarik untuk dibicarakan adalah penampilan menonjol beberapa pemain di tim-tim medioker sepanjang musim. Contohnya, seorang penyerang Spanyol yang 'hanya' berharga 2 Juta Pound dan bermain 'hanya' di klub sekelas Swansea. Yang satu ini adalah conton istimewa bahwa sebuah kinerja dapat ditunjukan dengan usaha keras di klub manapun dia berada. Dengan total sejumlah 18 gol di buat, atau terpaut 8 gol dari RvP sebagai top skor musim 2012/2013 maka jumlah ini adalah angka yang luar biasa. Jangan lupa Michu sesungguhnya adalah seorang pemain tengah, dan musim ini adalah musim pertama dia bermain di premiere league. Pun begitu dia langsung berkontribusi dengan membawa timnya memperoleh trophy Piala Liga (Capital One Cup). Sebuah pencapaian yang impresif. 

Namun, satu kebiasaan yang seringkali terjadi adalah, klub-klub besar dengan financial yang kuat suka membajak pemain-pemain bintang di klub-klub medioker seperti ini. Karenannya bisa jadi jika Michu, C. Benteke, ataupun Gareth Bale akan bermain di tim yang lebih besar musim depan. Ya besar duitnya, dan besar sejarah prestasinya. Serta yang besar juga kesempatan tim tersebut memenangi berbagai trophy. Pemain sendiri pun biasanya juga tak keberatan untuk pindah, apalagi ke klub yang akan bermain di Liga Champions Eropa. Sebuah panggung maha mewah bagi mereka untuk pamer skill dan unjuk diri. Siapa tahu ada tim yang lebih besar tertarik menikmati jasa olah bola mereka. Begitulah industri sepakbola. 

Thursday, 4 April 2013

Robin van Persie is a RED. Manchester RED

source: bola.viva.co.id


Mendengar nama Robin van persie. Apa yang terbayang di pikiran anda ketika nama ini disebut? Striker Timnas Belanda, pemain kidal, penyerang, top skor BPL 2011/2012, leader di lapangan, atau mungkin pengkhianat terbesar Arsenal? Saya pikir bayangan kita tidak jauh berbeda dalam posisi ini. Namun, pernahkan anda membayangkan "Robin van Persie (RvP) = pemain Manchester United"?

Jika melihat sepak terjang RvP di klubnya terdahulu, Arsenal. Siapa yang akan dapat membayangkan bahwa pada akhirnya di usia 29 Tahun dia mengambil pilihan untuk menyebrang ke tim rival di tanah Inggris raya, Manchester United. Bagi saya, perpindahan ini adalah proses transfer yang fenomenal. Dia tak memikirkan uang dan berapa besar gaji yang diganjar United untuk jasanya. Dia hanya mau merebut trophy Premier League, sesuatu yang belum dirasakannya di Arsenal.

RvP adalah hembusan angin yang teramat segar dan memabukkan bagi setiap fans setan merah dimanapun mereka berada, termasuk saya. Apalagi dengan kondisi nir-gelar yang dialami United musim 2011/2012, kehadirannya di jajaran penyerang United adalah anugrah. Meskipun satu tempat milik Berbatov harus diserahkan dan berkonsekuensi atas kepeindahan Top Skor Premier League 2009/2010 ini ke Fulham.

Jika sedikit menengok ke belakang dimana tak satupun gelar berhasil dimenangkan United kala itu. Terasa miris bagi fans harus melihat tim yang disombongkannya terpaksa tampil di level Europa League namun bermain seperti pasukan amatir dari negeri antah berantah yang tak bertaji. Setelah sebelumnya tersingkir di fase grup Liga Champions, terdampar di kompetisi malam Jum'at Liga Europa, pun United masih menyerah dan mengaku kalah atas Ath. Bilbao yang dengan tega menendang United dalam jurang penyesalan. Mendalam.

Di kompetisi lokal, United harus rela 2 kali di pecundangi Manchester City, di semifinal piala FA kalah 1-0. Serta harus juga merelakan Kota Manchester dikuasai oleh pasukan biru dalam pertandingan terkakhir Premier League di musim tersebut. Sedangkan di Piala Liga, United yang seperti komitmen Sir Alex Ferguson yang seperti biasanya menurunkan tim muda juga harus hancur ditaklukan West Ham dengan skor mencolok, 4-0. Sejak saat itu, keinginan terbesar atas tim yang saya cintai ini adalah mendatangkan striker baru, yang berpengalaman dan berprestasi tentunya.

Sejak Arsenal ditinggal oleh Francesc Fabregas, sang kapten yang kembali klub masa kecilnya Barcelona. Otomatis, RvP sebagai salah satu pemain senior dan berpengalaman di Arsenal memperoleh kepercayaan sebagai kapten tim London Merah. Posisi awalnya yang ketika didatangkan dari Feyenord sebagai pemain sayap kiri, secara cerdas dikreasi oleh tangan dingin Arsene Wenger menjadi penyerang tengah. Jadilah RvP berevolusi menjadi striker andalan sang profesor.

Dengan jumlah 30 gol dia lesakkan sepanjang musim terakhir BPL- nya di Arsenal, pantaslah jika RvP sangat dibenci para fans Arsenal dan dianggap sebagai judas mata duitan ketika dia akhirnya pergi. Betapa beratnya dia sepanjang musim memikul tim yang sempat dijuluki "RvP FC" ini hampir sendirian.

Kini dengan keberadaanya di United, dengan selisih 15 poin di atas City sebagai Runner Up. Pantaslah bagi kita melihat dan menunggu sumbangsih RvP kepada tim barunya cukup lewat hadiah trophy liga ke-20 di akhir musim ini. Nomor punggung 20 peninggalan Fabio yang diserahkan kepadanya, seperti sebuah isyarat alam bahwa trophy ke-20 akan dia persembahkan kepada timnya kini. Meskipun soal ini buka tanggung jawab RvP seorang diri. Tapi apakah kita tidak ikut senang dan terharu jika RvP bisa mengangkat trophy setelah sekian lama bermain di BPL.

Sudah, lupakanlah julukan RvP FC yang sempat berpindah ke United di paruh pertama musim, seperti juga RvP telah benar2 melupakan tim lamanya di London. Hal ini bisa terlihat dari beberapa kesempatan wawancara media, seakan dia berkata "Andai lebih awal saya pindah ke Manchester United..". Lihat pula totalitas selebrasinya ketika berhasil mencetak gol ke gawang lawan, adaptasi cepatnya menyatu dengan skuad, dan pengaruhnya atas performa tim secara umum. Maka tak salah, jika dia adalah idola baru yang sangat dicintai fans United. Tanpa peduli darimana dia berasal. Tapi yang terpenting dimana ia berada saat ini.

RvP is a RED. Manchester Red.
source: agusmanchunian.wordpress.com


Tuesday, 2 April 2013

Masalah Utama Manchester United adalah Chelsea

source: tribunnews.com
Dear United fans? How's your feeling today? Whatever it is, perhaps we share the same feelings lads hoho. Yes, bad feeling has always following every lose that we got. Like what Chelsea had done last night to our team. The greatest Manchester United with the only one goal scored by Demba Ba.

Bukan salah De Gea yang mati langkah tanpa bisa berbuat apa2, menyaksikan bola masuk menghujam gawang yang dia jaga. Namun perlu diakui bahwa gol ini memang istimewa. Ba dengan gerakan luwes, lentur, memutar badannya lalu memposisikan kaki kanannya tepat pada bola, assist dari Mata. Akibatnya bola pun berubah arah ke pojok kanan gawang De Gea. Lebih istimewa karena Ba melakukan gerakan ini dengan melewati marking yang dibuat oleh Ferdinand.

United sebenarnya juga bukan tanpa peluang. Bisa ditebak bahwa Chica yang selalu mencetak gol ke gawang Chelsea musim ini, pasti diturunkan. Setidaknya tercatat dua kali tercipta peluang emas melalui Chica atas gawang Cech ditambah satu sepakan Van Persie di akhir-akhir laga yang masih melambung tinggi.

Namun performa gemilang kiper senior Chelsea inilah yang mampu menggagalkan dua peluang itu. Satu tendangan dari luar kotak 16 yang walaupun mampu mengecoh Chech, rupanya masih bisa diselamatkan dengan kakinya. Serta yang ke dua adalah sundulan Chica menyambut crossing Welbeck yang secara menakjubkan pula kembali dapat ditepis dengan tangan kiri Cech. Benar-benar tembok.Tembok ini juga yang membuat kita tak bisa melihat selebrasi khas Chica yang selalu mengkreasi telapak tangannya menbentuk huruf "C" setelah mencetak gol. Ada yang menebak "C" ini adalah untuk Chicarito. Tapi saya lebih suka "C" ini diartikan sebagai "Chelsea's Assassin".

source: agusmanchunian.wordpress.com

Satu fakta menarik dan sekaligus menyakitkan bagi fans United adalah, Chelsea merupakan masalah utama United musim ini. Masih ingat bukan, bahwa United pada awal musim kompetisi 2013/2014 memiliki empat major trophy yang sebenarnya mungkin bisa ditambahkan di dalam lemari koleksi trophy Old Trafford. Ke empatnya adalah Barclays Premier League (EPL), FA Cup, Champions League, dan Capital One Cup (Piala Liga: was Carling Cup). Namun mimpi indah untuk memenangkan ke empatnnya atau setidaknya cukup tiga diantaranya demi mengulang sukses treble tahun 1999 akhirnya sirna.

Dengan kondisi tiga kemungkinan trophy yang sudah hilang, dua diantaranya adalah hasil kreasi pasukan London Biru yang sebenarnya sedang tidak stabil performanya. Ya, terimalah kenyataan itu. Meskipun Chelsea yang saat ini masih ditangani manager interim dan secara  ironis menjadi public enemy di mata fans, namun kenyataan di lapangan merekalah yang mampu merampok kesempatan lebih dari 635 Juta fans United di seluruh dunia untuk bergembira meraih trophy Capital One Cup dan FA Cup musim ini.

Setelah sebelumnya Chelsea menyingkirkan tim muda United di Capital One Cup melalui babak perpanjangan waktu di Stamford Brigde. Semalam (1/4) drama kegagalan kembali terulang di tempat yang sama oleh tempat yang sama.

Saat ini, tak bisa lagi United menjadikan rentetan cedera para pemain menjadi kambing hitam kegagalan seperti yang pernah terjadi musim lalu. Faktanya rata-rata pemain inti saat ini dalam kondisi bugar. Kecuali Rooney dan Rafael yang masih dalam pantauan tim medis United dengan kondisi yang nampaknya serius. Atau mungkin, faktor jarak pertandingan yang terlalu dekat (48 jam) setelah melawat ke Stadium of Light markas Sunderland mau dijadikan alasan? Nampaknya juga tidak tepat.

Seperti yang biasa telah dilakukan Sir Alex, tadi malam tim yang diturunkan adalah starting eleven yang berbeda dari 11 pemain yang turun melawan Sunderland. Bahkan meskipun jarak antar pertandingan lebih "normal", Sir Alex tidak pernah menurunkan starting eleven yang sama. Tidak pernah sekalipun. Praktis hanya De Gea, Carrick, dan Valencia yang kembali bermain dalam jarak 48 jam tadi malam. Jadi kesimpulannya, jarak pertandingan yang terlalu dekat bisa diatasi dengan rotasi pemain.

Sisi menarik dari hal ini adalah, tebak-tebakan siapa saja 11 pemain awal yang akan diturunkan di setiap pertandingan dapat menjadi hiburan lain yang bisa dinikmati oleh fans United. Termasuk saya. Kalau tebakan/prediksi bisa tepat dengan susunan pemain yang di pasang Sir Alex, sungguh itu adalah nikmat yang tiada terkira. Namun nyatanya saya belum pernah dapat tepat menebak formasi awal United di setiap pertandingan. Jadi siapa saja pemain yang akan turun seolah-olah hanya Sir Alex dan Tuhan yang tahu.

Kembali kepada Chelsea sebagai sumber permasalahan. Sudah seharusnya persoalan Chelsea ini disikapi dengan positif. Karena dalam dua pertandingan tragis itu United tidaklah bermain buruk, Chelsea juga tidak lebih baik. Saat kalah 5-4 di COC, United mampu unggul 3-2 hingga akhir laga dengan mayoritas pemain tim U-21, jika saja Chelsea tidak mendapat hadiah penalti karena pelanggaran yang dilakukan Wooton. Bandingkan dengan formasi pemain dengan harga ratusan milyar tiap orangnya yang diturunkan Chelsea. Seolah ada price tag di dada mereka masing-masing yang direpresentasikan dengan skill luar biasa di lapangan macam trio lini tengah mereka Mata-Hazard-Oscar.

Namun di akhir memang neraca keberuntungan hanya menghampiri satu pihak saja. Tidak bisa dua tim melaju ke babak selanjutnya. Hanya satu tim yang bisa. Dan dengan situasi ini, United seharusnya makin bisa fokus memenangkan 8 pertandingan sisa BPL untuk merebut trophy ke-20 nya. Sehingga United makin bisa menepuk dada jemawa dengan status juara Liga Primer terbanyak (meskipun sekarang sudah), yang otomatis pula bisa meningkatkan jumlah haters United di seluruh dunia hehe. Karena bagi sebagian diantara mereka siapapun lawan United di setiap pertandingan yang dijalani, dia adalah tim yang selalu akan dibela. Meskipun tim itu bukan tim yang loyal dia bela. Prinsipnya, "asal bukan MU", mungkin.

Mari kita kencangkan sabuk pengaman, dan tancap gas lagi demi mengalahkan The Noisy Neighbor Senin nanti sebagi permulaan.







Wednesday, 18 April 2012

The next #1 legend has born in United?






Ketika Manchester United memasuki musim 2010/2011, muncul berbagai kekhawatiran dari fans (termasuk saya) akan pensiunnya beberapa legenda klub yang telah berkontribusi besar. Sebut saja Gerry Neville, Paul Scholes, dan terutama posisi penjaga gawang nomer satu saat itu yaitu Edwin Van Der Sar. 


Bagi saya selama Van Der Sar di MU meskipun datang dalam usia yang tidak lagi muda, dia berhasil memberikan rasa aman sebagai benteng terakhir pertahanan MU. Hingga pada akhirnya bersama jalannya musim, berbagai rumor dari media di Inggris mulai mengabarkan bahwa Sir Alex Ferguson (SAF) tertarik mendatangkan kiper muda dari Spanyol.

Yup, tak lain dia adalah David De Gea Quintana. Pemuda yang bahkan pada saat itu masih berusia 20 tahun didikan Athletico Madrid. Dia lahir di Ibukota Spanyol pada 7 November 1990 (ckck..bahkan saya lebih tua dari dia-___-). 


Di klub tersebut performanya terbilang cukup fenomenal dan cepat bersinar. Dia memulai debutnya di tim Senior Athletico Madrid pada usia 19 tahun. Tepatnya pada 30 September 2009, dia menggantikan Roberto yang cedera saat pertandingan UEFA Champions League melawan F.C. Porto, meskipun akhirnya timnya mengalami kekalahan 2-0.(dari Wikipedia)

De Gea memulai musim 2010-2011 dengan gemilang, membantu Atletico memenangkan UEFA Super Cup: di 90 menit dari kemenangan 2-0 melawan Inter Milan.

Karier De Gea juga semakin melesat setelah bermain baik sepanjang musim 2010-2011, dan pada puncaknya, De Gea membawa timnas U-21 Spanyol menjuarai Euro U-21 di Denmark. Total dia ‘hanya’ butuh waktu 2 tahun bermain di tim senior untuk menunjukan bakatnya sebagai kiper handal kepada dunia. Setidaknya, SAF pun sangat yakin dengan kemampuan pemuda ini. 


Maka pada musim panas 2011, David De Gea resmi hijrah dari klub Atletico Madrid ke Manchester United dengan biaya transfer £18.5 juta. Sebuah rekor tersendiri bagi transfer pemain di posisinya. Dia memecahkan rekor sebagai kiper termahal se-Inggris raya, memecahkan rekor transfer sebelumnya milik Craig Gordon yang dibeli Sunderland seharga £9 juta.

Dia memulai bermain di Manchester United (MU), salah satu tim besar dengan sejarah gemilang di daratan Inggris pada beberapa laga pra musim. Amerika Serikat menjadi awal adaptasinya dengan rekan rekan di tim baru dalam rangkaian tur MU.

Namun, saya yakin bagi sebagian besar fans MU, moment yang akan paling diingat adalah debutnya ketika ikut mengantar MU menjadi juara Community Shield. Pertandingan awal musim antara juara Barclays Premier League (BPL) musim sebelumnya dengan juara piala FA.





Kebetulan sekali, lawan MU saat itu adalah ‘si tetangga berisik’ Manchester City. Dalam 2x45 menit dia menampilkan performa yang boleh dibilang jauh dari harapan meskipun pada akhirnya MU unggul 3-2 atas City. 
Hal ini menjadi awal mula keraguan banyak fans atas performannya terutama ketika gagal menahan tendangan jarak jauh Edin Dzeko yang boleh dibilang hanya ‘tendangan khas latihan’, tidak keras dan hanya mendatar.

Keraguan saya pun sebagai fans MU semakin membuncah pada diri De Gea, dalam ingatan saya ada 2 kejadian fatal ketika dia tidak mampu menahan tembakan dari luar kotak 12 pas oleh Shane Long, dan yang kedua adalah ketika dia salah mengantisipasi bola sepak pojok pada saat MU melawan Blackburn.

Postur, rabuh jauh, skill, dan kendala bahasa
Berbagai analisa dijelaskan, fakta diungkapkan, dan pembelaan pun keluar dari manager, rekan tim, maupun media. Kenyataan bahwa dia bertinggi badan 193 cm namun hanya dengan berat badan 76 kg menunjukan postur badannya kurang ideal (kurang besar/berotot) bagi ukuran kiper di BPL yang terkenal mengedepankan fisik selain kecepatan. Ini adalah salah satu analisis kelemahan dia sebagai kiper. Kemampuannya memotong bola bola crossing dan tembakan jarak jauh menjadi PR buat De Gea menurut pengamatan saya menilik performanya di awal musim.

Hal yang tidak kalah menghebohkan adalah ternyata De Gea selama ini mengalami rabun jauh (minus) pada matanya. Percaya? Hehe saya pun kaget ketika pertama kali membaca fakta tentang dia. Selama tampil di lapangan dia ternyata terbantu penglihatannya karena menggunakan soft lense. Namun, saat bersamaan saya juga lega karena dia telah merencanakan untuk melakukan operasi mata di akhir musim agar penglihatannya kembali normal :)

Salah satu kendala lain yang membuat dia kurang cepat bisa beradaptasi adalah dia datang di Inggris namun tidak bisa sama sekali berbahasa Inggris. Padahal sebagai ‘jendral’ di depan gawang dia penting menggalang koordiasi dengan quartet back ataupun pemain yang lain lewat komunikasi verbal. 


Namun SAF tentu tidak tinggal diam, karena saya mendengar bahwa dia intens belajar bahasa Inggris di sela sela latihan tim. (wew,, haha sok mendengar macam pengamat bola :D)



 


Di saat penampilannya yang masih angin anginan dia beberapa kali di bangku cadangkan seiring penampilang yang menjanjikan dari kiper kedua MU (yang sebenarnya lebih tua, berusia 27 tahun) yaitu Anders Lindegaard. 

Buat saya ini ‘hukuman’ yang adil bagi De Gea untuk memacunya menunjukan performa yang lebih bagus. Media massa di Inggris yang terkenal ‘kejam’ berkomentar teradap dunia persepakbolaan juga dengan tegas menghakiminnya atas penampilan di bawah standart bagi seorang kiper di klub selevel MU.

Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Waktu yang menjawab semua keraguan ketika setelah masuk paruh musim kedua dia menunjukan performa yang gemilang. Bahkan tercatat dia salah satu dari sekian kiper di BPL yang melakukan sekian banyak penyelamatan atas shoot on goal di lapangan. Kini di lapangan dia juga terlihat lebih tenang dan percaya diri.

Bagi saya performanya yang terus membaik ini juga yang telah membantu MU akhirnya berhasil merebut singgasana klasemen dari City (meskipun bagi banyak fans, penampilan MU sebagai tim di level Eropa musim ini mengecewakan). 


De Gea juga berhasil mencetak beberapa kali clean sheet. SAF sebagai menager tentu senang dengan perkembangan kiper mudanya ini, demikian pula pujian juga mulai mengalir kembali dari rekan rekan setim bahkan media yang sempat dengan pedas mengkritiknya.

Dalam hati saya yakin, potensi De Gea akan semakin terasah dengan perlakuan yang tepat. Sudah menjadi rahasia umum bahwa SAF sering mandatangkan pemain muda namun mampu memolesnya menjadi super star semacam Christiano Ronaldo ataupun David Beckham. 

Kecepatannya, keluwesan gesture tubuhnya, dan kepercayaan diri De Gea akan membawa dirinya sendiri dan MU ke level yang lebih tinggi di masa masa yang akan datang. Maka tidaklah heran jika dia telah digadang gadang akan menjadi suksesor Iker Cassilas di depan gawang timnas Spanyol yang selama ini tak tergantikan.





Lalu pencapaian terdekat apa yang saya harapkan? Hanya satu, 

Tolong ya dek De Gea,, bawa MU merebut title Premier League ke-20 musim ini.OK?:D



@RidwanAb